Sekolah Minggu Tridharma – Aku Sayang Padamu, Mama

Arum tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil yang terletak di satu negara yang memiliki empat musim. Penduduk kota itu tidaklah banyak, sehingga mereka mengenal satu sama lain.

Ayah Arum sudah lama meninggal. Penduduk kota itu mengenal Arum dan ibunya sebagai anak dan ibu yang baik. Ibu Arum adalah seorang perawat di rumah sakit yang seringkali mendapat giliran bertugas malam. Untunglah Arum adalah seorang anak yang berbakti. Dia mau melakukan tugas-tugas di rumah, dan selalu berusaha membuat ibunya nyaman jika beliau sedang berada di rumah.

Sayangnya, Arum juga punya sifat yang kurang baik. Konsentrasinya gampang sekali terpecah. Arum sulit sekali untuk terfokus pada apa yang sedang dikerjakannya. Jika sedang menyapu lantai, dia bisa meninggalkan sapunya begitu saja ketika ada kucing lucu yang melintas. Bahkan ketika sedang berada di kelas pun, Arum bisa menengok ke luar jendela dan mengabaikan guru hanya karena ada kadal yang lewat dan terlihat olehnya. Ibunya dan orang-orang di sekitarnya sangat khawatir dengan sifat Arum ini, jika mengingat kalau Arum sering sendirian di rumah. Bagaimana jika Arum sampai lupa mengunci pintu, atau mematikan kompor, hanya karena ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya ketika ia seharusnya melakukan tugas-tugasnya itu?

Saat ini adalah akhir dari musim gugur. Para warga diperingatkan kalau musim dingin kali ini akan lebih dingin daripada musim dingin tahun-tahun sebelumnya, dan itu membuat Arum cemas. Dia teringat pada mantel ibunya yang sudah tipis karena sudah dipakai selama bertahun-tahun. Ibunya bisa sakit jika mengenakan mantel setipis itu di cuaca yang lebih dingin. Selama ini ibunya tak terlalu memedulikan kepentingannya sendiri, karena ia selalu mendahulukan kepentingan Arum.

“Aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang agar bisa membelikan Ibu mantel yang baru,” kata Arum, pada dirinya sendiri. “Kalau tidak salah, Tuan Takeshi pemilik toko pakaian sedang mencari seorang anak yang bisa diminta bantuannya untuk membersihkan tokonya. Aku akan mencoba melamar ke sana. Memang, Tuan Takeshi mencari seorang anak yang lebih besar daripada diriku, tapi aku kan sudah terbiasa mengurus rumah sendirian. Mungkin Tuan Takeshi mau berubah pikiran saat melihatku.”

Tuan Takeshi memang sedang mencari seorang anak yang mau bekerja paruh waktu di tokonya. Pekerjaan itu bisa dilakukan setelah pulang sekolah. Betapa terkejutnya orang-orang ketika tahu kalau Tuan Takeshi akhirnya memilih Arum sebagai orang yang akan membantunya.

“Kenapa Anda memilih Arum, Tuan Takeshi?” tanya Meli, ketika bertemu Tuan Takeshi yang sedang berbelanja sayur di toko orang tua Meli.

“Dia anak baik,” jawab Tuan Takeshi. “Dia sedang butuh uang untuk membelikan mantel baru buat ibunya, kebetulan ada mantel yang pas dengan yang ia butuhkan di tokoku. Jadi, nanti aku tinggal memotong gajinya saja.”

“Tapi, semua orang tahu kalau Arum seringkali tak bisa fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya,” kata Meli. “Ia bisa berhenti berlari hanya karena melihat ulat besar di pinggir lintasan, padahal saat itu sedang pelajaran olah raga dan ia tak memedulikan guru kami yang menjadi kesal karenanya. Saya tak bisa membayangkan tempat Anda jadi tak rapi karena Arum tak menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.”

“Ya, harus kuakui kalau anak itu agak ceroboh,” kata Tuan Takeshi, setelah sebelumnya menarik napas berat. “Tokoku memang jadi sedikit berantakan. Arum kerap lupa menggantungkan pakaian di tempatnya yang benar, dan menggeletakkan alat pel begitu saja. Tapi, ia sebenarnya anak yang baik, hanya perlu berlatih agar tidak ceroboh lagi. Aku sudah mengatakan kalau akan memotong gajinya setiap kali ia melakukan tindakan ceroboh, dan itu sudah terjadi beberapa kali. Aku khawatir, jangan-jangan ketika saatnya Arum seharusnya mendapatkan bayarannya, tak ada lagi gajinya yang tersisa yang bisa diterimanya.”

Meli menceritakan obrolannya dengan Tuan Takeshi kepada Peter dan Damar. Ternyata, tindakan Tuan Takeshi yang memotong uang bayarannya bisa membuat Arum sedikit berubah. Arum juga berhitung, jika gajinya terus-terusan dipotong, bisa-bisa ia tak mampu membelikan mantel yang ia inginkan untuk ibunya. Seminggu bekerja di toko Tuan Takeshi, Arum kini lebih teliti dalam bekerja. Ia tak lupa lagi menyapu sudut-sudut ruangan. Arum selalu berusaha membersihkan bawah rak-rak dan lemari sejauh ia bisa menjangkaunya dengan sapu. Arum juga selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk mengembalikan sapu dan alat pel ke tempatnya setelah digunakan.

Ibu Arum juga senang dengan perubahan anaknya tersebut. Arum juga menjadi lebih rapi jika berada di rumah. Tak ada lagi kejadian panci yang baru dicuci tergeletak begitu saja di ruang tamu, karena Arum membawa-bawa panci ke ruang depan hanya karena melihat seekor tupai melesat ke halaman depan rumahnya. Dan kejadian di mana ibunya nyaris terpelanting karena Arum meninggalkan sikat cuci baju di lantai sepertinya hanya tinggal cerita. Tuan Takeshi juga makin jarang memotong gaji Arum. Arum sudah yakin ia akan mendapatkan bayaran yang cukup untuk bisa membeli mantel baru yang hangat untuk ibunya.

Sebulan pun berlalu, saatnya Arum menerima bayaran dari pekerjaannya. Betapa kecewanya Arum ketika tahu kalau uang bayarannya sudah dipotong banyak karena kecerobohannya. Arum hanya menerima setengah dari jumlah yang seharusnya diterima.

“Maafkan saya, Arum,” kata Tuan Takeshi. “Tapi kita sudah saling berjanji, kau hanya akan menerima jumlah yang layak sesuai dengan pekerjaanmu. Hanya pekerjaan yang bagus dan dikerjakan dengan tuntas yang layak mendapat bayaran yang besar.”

Arum sangat mengerti dengan keputusan Tuan Takeshi tersebut, namun tak urung ia menangis juga dalam perjalanannya pulang ke rumah. Cuaca sudah semakin dingin, Arum jadi semakin sedih karena teringat mantel ibunya yang sudah tipis.

“Oh, apa yang harus kulakukan?” kata Arum, pada dirinya sendiri. “Apakah aku harus membelanjakan uang ini untuk membeli roti hangat yang enak untuk menghibur Ibu, atau menyimpannya. Aku masih bisa bekerja sebulan lagi di tempat Tuan Takeshi, mungkin dengan begitu uangku akan cukup untuk membelikan Ibu mantel baru. Ibu mungkin masih bisa bertahan dengan mantel lamanya sebulan lagi.”

Arum melangkah lesu memasuki halaman rumahnya, namun tak lama kemudian ia mengangkat wajahnya dan merasa sedikit keheranan. Rasanya ia mendengar suara orang-orang dari dalam rumahnya. Siapa yang datang berkunjung di cuaca sedingin ini. Arum sangat terkejut ketika melihat Tuan Takeshi, Meli, Peter, dan Damar berada di ruang tamu rumahnya bersama ibunya.

“Hei, Arum, ke mana dulu kamu?” tanya Peter, sambil menyeringai lebar. “Kami sudah menunggumu dari tadi!”

“Hai, Teman-teman,” sapa Arum. “Selamat malam Tuan Takeshi. Tumben kalian datang di waktu seperti ini.”

“Mereka ke sini untuk mengantarkan ini untuk Ibu,” kata Ibu Arum, dengan wajah bahagia.

Betapa terkejutnya Arum setelah melihat barang apa yang diantarkan Tuan Takeshi dan teman-temannya. Mantel baru untuk ibunya!

“Tapi, tapi …” kata Arum. “Bukankah gaji saya tidak cukup untuk membayarnya, Tuan Takeshi?”

“Tak usah dipikirkan, Arum, ini hadiah untukmu dan ibumu,” kata Tuan Takeshi. “Ibumu orang baik. Sudah banyak orang di kota ini yang diselamatkan oleh ibumu. Ini hanyalah hadiah kecil sebagai tanda terima kasih. Saya juga senang karena kamu ternyata mau belajar untuk memperbaiki diri untuk tidak ceroboh lagi. Kalau kau tak keberatan, saya memintamu untuk membantu lagi di toko. Sebentar lagi musim liburan, akan banyak orang yang berbelanja. Saya butuh tenaga bantuan, bahkan saya sudah meminta Peter dan Damar untuk ikut membantu juga.”

“Benarkah?”

Tuan Takeshi mengangguk. Peter dan Damar juga mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih, Tuan Takeshi,” kata Arum. “Dan kita akan saling membantu nanti, Peter, Damar. Sekarang, aku punya sedikit uang. Bagaimana kalau aku membeli kue yang enak untuk kita makan bersama?”

“Jangan,” kata Damar. “Tidakkah kau lihat kalau kami juga membawa banyak kue-kue? Sebaiknya kau simpan saja uang gajimu itu.”

Arum berpikir sejenak.

“Sepertinya aku tahu harus kubelanjakan apa uangku ini,” kata Arum. Ia lalu menoleh pada ibunya. “Ibu, bolehkah aku membeli beberapa bahan makanan untuk Nenek Daisy. Kasihan, dia sekarang sakit-sakitan sehingga tak bisa bekerja mencucikan baju tetangga-tetangganya. Ia tak punya uang untuk membeli persediaan makanan untuk musim dingin nanti.”

“Itu uangmu, Arum, terserah kau akan membelanjakannya untuk apa,” kata Ibu. “Ibu percaya kalau kau akan bijaksana dalam membelanjakannya.”

Tak lama kemudian, mereka semua pergi ke toko orang tua Meli lalu membeli beberapa bahan makanan untuk diberikan pada Nenek Daisy. Bukankah Arum anak yang baik hati dan sangat berbakti? Jadi tak heran jika banyak orang yang sayang padanya, dan mau membantu menghilangkan sifat buruknya.