Mengenal Sekolah Rumah?

Mengenal Sekolah Rumah?

Oleh : Greysia Susilo Junus

Sekolah rumah merupakan Pendidikan alternatif keluarga yang sekarang sering dibicarakan orang dan menjamur keberadaannya diantara keluarga-keluarga muda di Indonesia.

Keberadaan homeschool ( sekolah rumah ) menandai beberapa kekurangan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dari semua persoalan pendidikan yang terlalu kompleks untuk dijabarkan, dapat kita pilih beberapa yang berkaitan erat dengan konsep sekolah rumah.

Pertama, pendidikan yang menyamaratakan semua peserta didik tanpa pandang bulu. Padahal anak memiliki gaya belajar atau kecepatan belajar yang berbeda- beda.

Kedua, pendidikan yang mengejar target. Penyamarataan pendidikan mengakibatkan para penentu kebijakan harus membuat sistem indikator demi setiap guru dapat memultiplikasi sistem ini secara cepat. Akibatnya tugas utama guru bukan lagi mendidik, tapi mengejar target yang sudah digariskan oleh indikator- indikator tersebut.

Ketiga, pendidikan yang mengejar hasil, bukan proses. Indikator termudah yang ditemukan dalam sistem pendidikan Indonesia adalah Ujian Nasional. Akibatnya guru -guru terpaksa mengejar kemampuan menjawab soal anak. Metode-metode seperti drilling, menghapal, dan analisis soal untuk menemukan pola soal, menjadi andalan mereka. Anak-anak tidak pernah dianalisis apakah mereka memahami konteks atau hanya sekedar bisa atau hoki saja.

Mengenal Sekolah Rumah?

Sekolah rumah kemudian menjadi solusi alternatif bagi keluarga-keluarga yang mementingkan kualitas belajar yang holistik. Bagi saya sekolah rumah adalah pendidikan berbasis keluarga, yang sebagian besar dilakukan di lingkungan utama dan pertama anak : rumah. Beberapa lembaga yang melabeli diri mereka sebagai Lembaga Homeschool sebenarnya merupakan kategori flexi schooling, yang lebih cocok dikelompokkan bersama green school atau sekolah alam.

Ibarat rumah makan, maka sekolah menyelenggarakan menu paketan, hemat maupun combo. Terlalu hemat, ayam gorengnya terlalu banyak tepung – tidak boleh protes. mau tambah salad, kentang goreng, silahkan bayar tambahan. Bukan menu buffet makan sepuasnya. Sekolah rumah membebaskan orangtua untuk mengambil menu Ala Carte, ala Warteg. Tunjuk, hitung, bayar.

Ijasah pada anak pesekolah rumah bukan suatu masalah. keluarga diakui negara sebagai satu unit pendidikan non formal. Anak didik berhak untuk ikut ujian yang diselenggarakan negara melalui sistem yang sama dengan institusi pendidikan non- formal lain. Di Indonesia, hal ini diselenggarakan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Ujian diselenggarakan bersamaan dengan pendidikan formal. yaitu: SD – Paket A, SMP – Paket B, SMA – Paket C.

Ijasah – ijasah tersebut dapat digunakan untuk kuliah dimanapun, luar maupun dalam negeri. Kurikulum sekolah rumah sangat fleksibel. Menu yang dapat dipilih bisa berupa paketan, dengan membeli kurikulum dari lembaga-lembaga penyedianya; atau bisa mengambil dari berbagai sumber, seperti matematika dari www.ixl.com dan belajar membaca melalui situs www.readingeggs.com . Bahkan orangtua dapat membuat sendiri kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan keluarga maupun keinginan anak.

Inti dari sekolah rumah adalah memberikan hak anak akan adanya lingkungan belajar yang menyenangkan. Harapan utama keluarga-keluarga pesekolah rumah adalah menjadikan anak sebagai pembelajar mandiri seumur hidupnya. Tidak semua anak harus menjadi dokter, pilot, atau arsitek. Dunia ini membutuhkan tukang kue, tukang masak, atlet, desainer otodidak, seniman, bahkan entrepreneur sejati. Akhir kata, di luar sana, masih banyak cara-cara meningkatkan pengetahuan. Daripada menyalahkan sistem yang tidak mudah diubah, orang tua bisa memfokuskan energi mereka mencari solusi alternatif.

 

SELAMAT BELAJAR ANAK – ANAK INDONESIA !