Riwayat Bapak Tridharma Indonesia Kwee Tek Hoay

RIWAYAT HIDUP KWEE TEK HOAY

Orang tua

Kwee Tek Hoay adalah putra dari Kwee Tjiam Hong dan Tan An Nio. Kwee Tjiam Hong mempunyai 4 orang anak, masing-masing bernama Kwee Tek Soen, Kwee Wan Nio, Kwee Soei Nio dan Kwee Tek Hoay sebagai putra bungsu.
Kwee Tjiam Hong berasal dari Tiongkok, propinsi Fujian desa Lam An. Sebagaimana orang-orang Tionghoa perantauan lainnya, Kwee Tjiam Hong juga secara berkelompok meninggalkan negeri Tiongkok untuk mengadu nasib ke pulau Jawa. Ia datang ke pulau Jawa dengan menggunakan kapal layar sambil membawa sebuah patung seseorang yang bernama Kwee Seng Ong (Guo Shen Wang dalam bahasa Mandarin). Kwee Seng Ong dahulu dianggap sebagai raja yang dipuja oleh rakyat daerah Selatan Tiongkok (Fujian).

Kwee Tjiam Hong menetap di Bogor, pekerjaannya sehari-hari adalah pedagang obat-obatan yang dibawa dari Tiongkok. Ia bersama teman-temannya membuka toko obat dan juga memberi perawatan dan pengobatan secara tradiosional (sinshe).

Selain menjual obat, Kwee Tjiam Hong rajin dalam usaha lainnya seperti ekspedisi, toko tekstil dan memasarkan kain dengan berkeliling kota. Kwee Tjiam Hong ketika datang ke pulau Jawa masih belum berkeluarga. Setelah mendapat nafkah yang memadai, ia mulai berpikir untuk menikah. Pilihan jatuh pada Tan Ay Nio, putri pasangan Tan Tjin Siang dan Oei Tjiang Nio yang berasal dari keluarga besar di Bogor.

Kwee Tjiam Hong juga mendirikan sebuah kongsi bersama teman-temannya untuk mendukung usahanya. Kongsi merupakan wujud dari semangat saling membantu dan hidup bergotong royong.

Kwee Tjiam Hong pernah beberapa kali kembali ke Tiongkok, pada salah satu kunjungan kembalinya, ia mendapat gelar kehormatan Di Hu karena jasanya mendirikan sebuah kelenteng dan membantu korban banjir di negeri kelahirannya.

Kwee Tjiam Hong selalu mempergunakan bahasa Hokkian, berbeda dengan istrinya Tan Ay Nio yang juga fasih berbahasa Melayu karena ia sudah merupakan generasi ketiga yang lahir di Indonesia. Tan Ay Nio juga memakai baju kurung gaya Melayu

Tan Ay Nio meninggal dalam usia 66 tahun, sedangkan Kwee Tjiam Hong meninggal pada usia 77 tahun.

Putra Bungsu

Kwee Tek Hoay lahir pada tanggal 31 Juli 1886. Sebagaimana anak-anak Kwee Tjiam Hong lainnya, beliau dididik dengan keras dan hanya diijinkan menggunakan bahasa Hokkian dalam pergaulan sehari-hari. Akan tetapi Kwee Tek Hoay secara sembunyi-sembunyi juga mempelajari bahasa Melayu dari ibunya.

Karena sehari-hari Kwee Tek Hoay bergaul dan bercakap-cakap dengan ibunya, maka beliau lebih menguasai bahasa Melayu daripada bahasa Hokkian. Tak heran jika beliau menjadi malas ke sekolah karena tempatnya bersekolah adalah sebuah sekolah Tionghoa yang mempergunakan bahasa Hokkian sebagai pengantar. Beliau kerap kali membolos sehingga sekolah formal yang ditekuninya hanya kurang lebih setingkat dengan sekolah dasar sekarang ini. Selanjutnya beliau belajar di bawah bimbingan guru privat. Sebenarnya Kwee Tek Hoay ingin sekali bersekolah di sekolah Belanda yang dibuka oleh pemerintah. Tetapi pada masa itu orang-orang Tionghoa tidak diperkenankan masuk sekolah Belanda jika bukan anak seorang bangsawan atau orang berpangkat.

Disamping membantu orang tuanya berjualan, Kwee Tek Hoay juga mempergunakan waktunya untuk belajar sendiri. Salah satu kesenangannya yang paling menonjol adalah membaca buku sehingga beliau dijuluki si kutu buku. Beliau belajar tata buku dan akuntansi dari seorang guru sekolah Belanda. Beliau belajar bahasa Inggris dari seorang berkebangsaan India yaitu S. Maharaja yang menjadi guru sekolah Tiong Hoa Hwee Koan di Bogor. Bahasa Melayu dipelajarinya dari kenalan ibunya yang bekerja di Perkumpulan Kristen. Bahasa Belanda dipelajari dari Lebberton dan Wotman, guru bahasa Belanda dari perkumpulan Loge Theosophie di Bogor.

Sejak kecil Kwee Tek Hoay dikenal sebagai seorang anak yang berkemauan keras dan tekun. Beliau tidak dengan begitu saja menuruti kemauan orang tuanya. Beliau sangat gemar berdiskusi dan sering bertukar pikiran dengan teman-temannya. Kegemarannya membaca membuatnya berpikiran luas. Kerapkali beliau mengkritik beberapa tradisi Tionghoa yang cenderung percaya takhyul. Beliau sering menanyakan makna perayaan-perayaan yang dilakukan di kelenteng-kelenteng atau lazim dilakukan oleh orang Tionghoa. Tetapi jawaban yang diperolehnya dari pengurus kelenteng atau orang-orang tua seringkali tidak masuk di akalnya. Karenanya Kwee Tek Hoay lalu mencari jawaban tersebut dalam buku-buku agama.

Selain senang membaca, Kwee Tek Hoay juga senang menulis. Sejak masih sekolah Beliau sudah mulai mengarang. Tulisan-tulisannya antara lain dimuat di surat kabar Ho Po yang ditandainya dengan singkatan namanya yaitu KTH. Dengan cara tersebut beliau mulai mengembangkan bakatnya dalam bidang jurnalistik. Kwee Tek Hoay juga aktif dalam kegiatan sosial seperti pembinaan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan dan Perkumpulan Penolong Kematian. Perkumpulan Penolong Kematian ini kemudian menjadi perintis sarana perabuan jenazah (krematorium) di Indonesia. Beliau juga senang bermain sandiwara, memancing ikan, berburu dan bermain tenis.

Kehidupan Keluarga

Pada usia 20 tahun Kwee Tek Hoay dinikahkan dengan Oei Hiang Nio. Oei Hiang Nio adalah cucu Tan Kie Lam, kapten Tionghoa yang berpengaruh di Bogor. Sebagai seorang pedagang wanita yang punya reputasi yang baik, mudah saja bagi Tan Ay Nio (Ny. Kwee Tjiam Hong) untuk mendekati Tan Kie Lam untuk melamar cucunya tersebut. Tetapi ada 2 syarat dari Kwee Tek Hoay yang harus dipenuhi. Pertama, berbeda dengan adat istiadat yang berlaku pada masa itu, Kwee Tek Hoay bersikeras untuk melihat lebih dulu wajah calon istrinya sebelum orang tuanya pergi melamar. Kedua calon istrinya tersebut harus seorang yang tidak buta huruf. Untuk syarat pertama, Kwee Tek Hoay melaksanakannya sendiri. Setelah mengetahui siapa calon istrinya, beliau pergi ke gereja dan menunggu di depan gereja agar berkesempatan mengamati calon istrinya yang aktif ke gereja. Setelah Kwee Tek Hoay menyatakan persetujuan, lamaranpun diajukan. Mereka menikah pd bln Februari thn 1906.

Setelah menikah, istrinya diserahi tugas untuk mengurus tokonya yaitu toko serba ada KTH. Mula-mula Kwee Tek Hoay mengajari istrinya cara berdagang dan mengurus keuangan toko. Setelah mahir Kwee Tek Hoay membiarkan istrinya mengatur sendiri tokonya itu. Beliau berpendapat bahwa seorang wanita tidak harus selalu berada di dapur, tetapi juga harus bisa mandiri. Berbeda dengan kebiasaan pada masa itu yang meninggalkan istri di rumah, Kwee Tek Hoay justru sering mengajak istrinya ke pertemuan-pertemuan atau undangan jamuan makan teman-temannya.

Beliaupun tidak ragu untuk menggandeng istrinya ketika berjalan-jalan di depan umum. Oei Hiang Nio juga selalu menyempatkan diri untuk membaca tulisan suaminya sebelum dikirim atau dimuat di surat kabar. Kehidupan rumah tangga pasangan Kwee Tek Hoay dan Oei Hiang Nio ini dikenal masyarakat sebagai pasangan yang harmonis dan patut diteladani. Mereka dikaruniai 1 orang putri yang diberi nama Kwee Yat Nio dan 2 orang putra (Kwee Tjun Gin dan Kwee Tjun Kouw).