Pengertian tentang Tuhan di dalam Pemujaan Kelenteng (Bagian 2)

Pengertian tentang Tuhan di dalam Pemujaan Kelenteng (Bagian 2)

Pengertian tentang Tuhan di dalam Pemujaan Kelenteng
(Bagian 2)

Setelah membaca tentang Pengertian tentang Tuhan di dalam Pemujaan Kelenteng (Bagian 1), marilah sekarang kita lanjut pembahasan pengertian tentang Tuhan di dalam pemujaan kelenteng, untuk yang belum baca bagian satunya bisa klik di sini.

Sembahyang untuk Menghormati Tian

Seperti telah dituturkan di atas, akhirnya tidak ada batasan lagi antara istilah Shang-di dan Tian. Sebutan Tian yang kemudian secara lebih akrab disebut Tian-gong (Thian-kong — Hokkian) menjadi istilah yang umum apabila kita menyebut Shang-di. Pemujaan terhadap Tian-gong ini kemudian meluas sampai kegolongan masyarakat yang paling bawah seperti petani dan lain-lain. Bahkan kemudian muncul istilah “chu jiu Tian-gong sheng”. Istilah ini sangat populer di propinsi Fujian (Hokkian) dan Taiwan, mempunyai arti bahwa pada tanggal 9 bulan pertama Imlik adalah ulang-tahun Tiang-gong. Sebab itu masyarakat di dua tempat itu mengadakan sembahyang khusus untuk menghormat Tian, yang disebut “Jing Tian-gong” (King Thi-kong — Hokkian) Upacara sembahyang ini termasuk salah satu rangkaian upacara pada pesta menyambut musim semi yang berlangsung selama 15 hari.

Pada tanggal 9, bulan pertama Imlik itu, upacara sembahyang dilakukan mulai dari kalangan atas sampai orang-orang miskin sekalipun. Penduduk yang miskin cukup menempatkan sebuah pedupaan kecil yang digantungkan di depan pintu rumahnya dan menyalakan lidi-dupa dari pagi sampai tengah malam terus menerus. Bagi orang yang berada, acara sembahyang ini merupakan hal yang paling megah dan khusuk. Sebuah meja besar yang di keempat kakinya diletakkan di atas dua buah bangku panjang. Kemudian di atas meja tersebut diatur tiga buah “Shen-wei” (tempat roh) yang terbuat dari kertas warnaa-warni yang saling dilekatkan. Barulah kemudian di depan shen-wei dijajarkan tiga buah cawan kecil berisi teh, tiga buah mangkuk yang berisi misoa yang diikat dengan kertas merah. Sesudah itu enam macam masakan vegetarian (tanpa daging) dan lima macam buah diatur di bagian depan. Inilah yang disebut “wu-guo-liu-chai” (ngo ko liok jay — Hokkian) yang berarti 5 macam buah dan 6 macam sayur, yang menjadi dasar utama dalam penataan barang sesaji upacara sembahyang gaya Tionghoa. Di bagian paling depan dipasang lilin 2 batang. Di bawah meja utama yang diletakkan di atas bangku panjang ini terdapat sebuah meja kecil. Sesajian yang terdiri dari ikan, ayam dan kepala babi dan lain-lain diletakkan di atasnya. Sesajian yang terdiri dari lima macam hewan ini disebut “wu-xing” (ngo-sing – Hokkian). Kemudian masih ditambah lagi dengan beberapa benda sesaji seperti arak dan Kue kura-kura yang berwarna merah. Konon sesajian meja bagian bawah ini diperuntukkan para malaikat pengawal Tiangong.

Sehari sebelum upacara sembahyang dimulai, seluruh penghuni rumah melakukan mandi keramas dan ganti baju. Sembahyang dilakukan tepat pukul 12 tengah malam, dimulai dengan anggota keluarga yang paling tua dalam urutan generasinya, semuanya melakukan “san-guijiu-kou” (sam kui kiu khou — Hokkian) yaitu tiga kali berlutut dan sembilan kali menyentuhkan kepala ke tanah. Sesudah selesai baru kemudian kertas emas yang dibuat khusus lalu dibakar bersama dengan tempat roh yang terbuat dari kertas warna-warni. Petasan kemudian dipasang untuk mengantar kepergian para malaikat pengiring. Di kalangan Tionghoa perantau di Indonesia sembahyang ini dikenal dengan sebutan “Sembahyang Tuhan Allah”, dan dilakukan dengan penuh kekhidmatan.

Tak jelas kapan masyarakat propinsi Fujian memulai sembahyang ini. Sebuah sumber mengatakan bahwa sembahyang Tuhan Allah baru mulai ada pada jaman Dinasti Qing. Seperti diketahui bahwa Fujian merupakan basis terakhir perlawanan sisa-sisa pasukan yang masih setia pada kerajaan Ming. Pada waktu pasukan Manzhu (Qing) memasuki Fujian mereka dihadapkan dengan perlawanan gigih dari rakyat setempat dan sisa-sisa pasukan Ming. Setelah perlawanan dipatahkan dengan penuh kekejaman, akhirnya seluruh propinsi Fujian dapat dikuasai oleh pihak Qing. Selama terjadinya kekacauan itu banyak rakyat menyembunyikan diri di dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Di dalam rumpun tebu itu pulalah mereka melewatkan malam tahun baru Imlik. Setelah keadaan aman, berbondong-bondong mereka keluar dan kembali ke rumahnya masing-masing. Untuk menyatakan rasa syukur karena terhindar dari bahaya maut. akibat bencana perang itu mereka lalu mengadakan sembahyang “Jing Tian —gong” pada tanggal 9 bulan I Imlik itu, sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Tian.

Dari contoh di atas ini jelas bahwa sebetulnya orang Tionghoa percaya akan Tuhan yang disebutkan sebagai Shang-di atau Tian-gong, hanya konsepsinya saja yang berbeda dengan agama bangsa-bangsa lain. Hanya bagi mereka Tuhan mempunyai pembantu-pembantu yang terdiri dari pelbagai dewa yang mempunyai jabatan tertentu, dan berkewajiban melakukan pengawasan terhadap perbuatan manusia dalam lingkungan kekuasaan dan wilayah masing-masing. ‘Maka dengan begitu jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini bukan disebabkan mereka percaya tahayul, melainkan disebabkan karena ia hendak menghadap kepada salah satu diantara sekian banyak pembantu Tuhan di dunia ini untuk keperluan tertentu atau sekedar menumpahkan perasaan hatinya.” Demikian dikatakan oleh seorang Sinolog Indonesia kenamaan Yunus Nur Arif (Nio Yu Lan) dalam bukunya – Peradaban Tionghoa selayang pandang.

Baca juga Pengertian tentang Tuhan di dalam Pemujaan Kelenteng (Bagian 3) klik di sini

Sumber: Buku Dewa-Dewi Kelenteng, Yayasan Kelenteng Sampookong, Gedung Batu – Semarang, 1990