PANCA-SILA (5 SILA) MENURUT TRIDHARMA

PANCA-SILA (5 SILA) MENURUT TRIDHARMA

Oleh: Hendrick Tan

Disebutkan lewat pengenalan Tridharma oleh Majelis Tridharma  bahwa ada berbagai padanan yang saling berkaitan dalam ajaran pokok Tridharma, salah satunya adalah padanan 5 yaitu

  • Buddhisme dengan Wu Jie (Pancasila),
  • Konfusianisme dengan Wu De / Wu Ting / Wu Chang (Lima Kebajikan) dan
  • Taoisme dengan Wu Xing (Lima Elemen).

Padanan ini bukanlah tanpa dasar, karena disarikan dari sejarah Tridharma yang telah berlangsung selama berabad-abad di Tiongkok. Berikut kita akan bahas asal muasal padanan tersebut.

Pancasila Buddhis dalam bahasa Sansekerta adalah

  1. Pranatipata (tidak membunuh),
  2. Mirsavada (tidak berucap salah),
  3. Kamasu-mithyacara (tidak berzinah),
  4. Adattadana (tidak mengambil apapun yang bukan miliknya) dan
  5. Suramaireya-madyapadana (tidak mabuk-mabukan).

Lima elemen Taois adalah

  1. Kayu,
  2. Air,
  3. Logam,
  4. Tanah,
  5. Api.

Lalu Lima Kebajikan Konfusian adalah

  1. Ren (仁) ,
  2. Yi(義) ,
  3. Li (禮),
  4. Zhi(智) ,
  5. Xin (信).

Pada zaman Dinasti Utara dan Selatan di Tiongkok, terdapat seorang terkenal dan terpelajar Konfusian yang mendukung Buddhisme bernama Yan Zhitui (531–591 M) yang mengatakan bahwa Pancasila dalam Buddhisme memiliki padanan dengan Lima Kebajikan Konfusianisme.

Maha Bhiksu Zongmi (780-841 M), sesepuh Buddhisme Huayan dan Chan, mengidentifikasikan masing-masing sila dalam Pancasila Buddhis dengan Lima Kebajikan Konfusius. Beliau menulis:

“Buddha mengelompokkan Pancasila dengan Lima Kebajikan sehingga menyebabkan para pemula mempertahankan Pancasila sehingga dapat terhindar dari Tiga Alam Sengsara (Apaya) dna terlahir kembali di alam Manusia.. Pancasila tidak terpisahkan dari Lima Kebajikan sehingga tindakan yang bajik harus terus dilaksanakan… Tidak membunuh adalah ‘Ren’, Tidak mencuri adalah ‘Yi’, tidak berzinah adalah ‘Li’, tidak berbohong adalah ‘Xin’ dan tidak mabuk-mabukan serta tidak makan daging adalah ‘Zhi’” (Yuanren Lun)

Guru Agung Tiantai Miaole (711-782 M) dan bhiksu Annen (841 M) di Jepang mengatakan bahwa Konfusius dan Laozi adalah para Bodhisattva yang mengajarkan Pancasila Buddhis lewat ajaran tentang Lima Kebajikan. Bhiksu Nichiren Shonin (Rilian Shengren) mengatakan,

“Lima Kebajikan Konfusian di Tiongkok sebelum masuknya Buddhisme adalah identik dengan Pancasila Buddhisme.”

Mahaguru aliran Buddhisme Tiantai, yaitu Zhiyi (538-597 M) juga menyepadankan Pancasila dengan Lima Kebajikan, Lima Kitab dan Lima Elemen dalam Konfusianisme:

“Berkaitan dengan ajaran dikenal-lah Pancasila. Tidak membunuh diperbandingkan dengan Timur, Timur adalah Kayu dan Kayu didasarkan atas Kemanusiaan / Cinta Kasih (Ren). Tidak mencuri diperbandingkan dengan Utara, Utara adalah Air dan Air didasarkan atas Kebijaksanaan (Zhi). Mereka yang sadar tidak akan mencuri. Tidak berbuat seksual yang salah diperbandingkan dengan Barat, Barat adalah Logam dan Logam didasarkan atas Kesusilaan (Li).. dsb.” (Kelanjutan Tripitaka)

Mahaguru Buddhis aliran Shingon (Zhenyan) bernama Kobo Daishi / Kunghai Dashi (774-835 M) di Jepang mengatakan:

“Mereka disebut sebagai Lima Kebajikan Utama dalam Konfusianisme dan disbeut sebagai Pancasila dalam ajaran Buddha. Namanya berbeda tetapi esensinya sama, Lima Kebajikan Konfusian dan Pancasila Buddhis merupakan langkah pertama memotong kesesatan dan menumbuhkan kebajikan, mereka adalah langkah awal keluar dari penderitaan dan menjadi bahagia.” (Hizo Hoyaku)

Bahkan harmoni padanan 5 dalam Tridharma bukan pendapat para guru Buddhis saja, tapi juga termaktum dalam kitab Buddhis dan Taois. Sutra Trapusa dan Bhallika yaitu kitab Buddhis apokrifa yang ditulis pada tahun 406 M di Tiongkok menyebutkan bahwa harti ketujuh setelah Sang Buddha tercerahkan, beliau membabarkan Dharma pada 500 pedagang yang dibawa oleh Trapusa dan Bhallika. Di sana disebutkan bahwa Buddha mengajarkan pentingnya Pancasila, sembari mengaitkannya dengan Lima Elemen, Lima Puncak, Lima Kaisar dan Lima Kebajikan Konfusian. Sila Buddhis tidak membunuh dikaitkan dengan Cinta Kasih (Ren), sila tidak mengambil barang yang bukan hak miliknya dikaitkan dengan Kebenaran (Yi), sila tidak berzinah dikatikan dengan Kesusilaan (Li),  tidak mabuk-mabukan dikaitkan dengan Kebijaksanaan (Zhi) dan tidak berbohong dengan Kepercayaan (Xin).

Bhiksu terkenal aliran Seon (Zen) bernama Gihwa (1376 – 1433 M) di Korea pada Dinasti Goryeo dan Joseon dalam karyanya Hyeonjeong non menuliskan:

“Para umat Khonghucu menganggap Lima Kebajikan sebagai jalan utama Tao. Sila-sila Buddhisme tidak berbeda dengan Lima kebajikan Konfusianisme. Sila tidak membunuh sama dengan Cionta Kasih (Ren), tidak mencuri sama dengan Kebenaran (Yi), tidak berzinah sama dengan Kesusilaan (Li), tidak mabuk-mabukan sama dengan Kebijaksanaan (Zhi) dan tidak berucap salah sama dengan Kepercayaan (Xin).”

Ketika muda, bhiksu Gihwa adalah seorang terpelajar Konfusian dengan reputasi tinggi, namun memeluk agama Buddha ketika berumur 21 tahun.

Kitab Taois Taishang Laojun Jiejing (Daozang 0809) membabarkan Lima Sila persis seperti yang ada dalam Buddhisme dan mengaitkannya dengan Lima Elemen (Wu Xing) Lima Puncak, dan Lima Kaisar. Teks Taois tersebut adalah pegangan utama bagi Taois di kuil Louguan di Gunung Zhongnan, yang didirikan oleh Yin Tong (388-499 M) yang masih keturunan Yin Xi (murid Laozi).

“Para Taois Louguan hidup dalam penyepian monastic dan mengikuti Pancasila Buddhisme… yang mereka kaitkan dengan kosmologi Tiongkok.. Sila-sila Taois diadaptasi dari Buddhisme.” (Livia Kohn)

Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Taishang Laojun (Laozi) mengatakan:

“Kelima Sila berhubungan dengan Lima Puncak (Tai, Heng, Hua, Heng, Song), Lima Elemen Dasar (Kayu, Api, Logam, Air, Tanah)…Sila tidak membunuh berhubungan dengan Timur (Kayu), sila tidak mencuri berhubungan dengan Utara (Air), sila tidka berzinah berhubungan dengan Barat (Logam), sila tidak mabuk-mabukan berhubungan dengan Selatan merepresentasikan Api, sila tidak berucap salah berhubungan dengan pusat merepresentasikan Tanah.”

Bangsa Tiongkok mengaitkan Lima Elemen (Wu Xing) dengan Lima Kebajikan (Wu Chang / Wu De) juga sudah sejak zaman dahulu kala sejak masa Zou Yan (350-270 SM) di maan ia mengaitkan Yin Yang dengan Lima Elemen dan Lima Kebajikan. Sesepuh Taois silsilah selatan aliran Quanzhen, Zhang Ziyang di dalam karyanya Wuzhen Pian (1075 M) juga menjabarkan kaitan antara Lima Elemen dan Lima Kebajikan Konfusian dari sudut pandang kosmologi dan hidup manusia.

Melihat berbagai sumber sejarah di atas, maka kita dapat dengan tepat memahami korelasi antar padanan lima dari Tridharma yang merupakan keyakinan yang telah dimiliki oleh umat Buddhis dan Tao selama berabad-abad lamanya.