Menjelajahi Misteri Ciamsi dan Pwa Pwee

Written by Ardian Cangianto

Pendahuluan Ciamsi dan pwa pwee adalah barang yang umum dapat dilihat dalam kelentengkelenteng. Hampir semua umat kelenteng mengenal metode ini dan selalu dianggap sebagai metode peramalan dan tidak jarang ada yang mentertawakan metode ini karena dianggap tahayul atau rumus probilitas belaka dan tidak ilmiah. Tidak sesuai logika, jawaban mereka yang mentertawakan itu. Menurut prof. Bambang Soegiharto, “Kini makin disadari pula bahwa ‘logika’ sesungguhnya tidaklah satu, bukanlah hanya logika formal ala Aristoteles. Logika adalah sistem-sistem yang digunakan untuk menalarkan dan menjelaskan hubungan sebab-akibat, dan ada bermacam sistem.Sistem itu lahir seringkali sebagai konsekuensi dari ‘worldview’ (falsafah) tertentu yang khas, dan dipengaruhi karakter bahasa tertentu yang spesifik.” Sedangkan logika yang digunakan untuk mentertawai adalah logika dari kerangka berpikir barat. Bambang Soegiharto menambahkan bahwa “Orang kini makin menyadari bahwa realitas tak pernah lepas dari tafsiran: hidup berarti menafsir. Dan penafsiran selalu ditentukan oleh kerangka pemahaman awal kita (mind-frame), tak ada tafsir obyektif netral murni.” Manusia memang selalu menafsir semua yang ada dalam kehidupannya, disini kita juga harus menyadari bahwa ciamsie dan pwa pwee tidak lepas dari menafsir apa yang tersirat maupun tersurat.

Selain hal itu juga harus menyadari bahwa manusia ini hidup dalam jejaring alam semesta yang bergerak dan berkorelasi satu dengan yang lain. Ciamsie dan pwapwe adalah sarana untuk membangun jalinan dan komunikasi dengan jejaring alam semesta itu.

Upaya Manusia Menghadapi Hidup

Kita bisa melihat bahwa para Taoist jaman dahulu mencoba mencari cara memperbaiki qualitas hidup, baik secara fisik maupun psikis.Perjuangan mereka mencari cara panjang umur, menyehatkan tubuh, meneliti gejala alam, melihat perubahan, menerobos dimensidimensi yang tidak terlihat, mencari cara mengatasi alam tanpa merusak alam itu akhirnya bisa dikatakan semua jerih payah mereka menjadi suatu dasar yang sekarang ini dikenal sebagai 5 ilmu atau wu shu atau juga disebut daoshu (ilmu Dao).

Kelima ilmu adalah sebagai berikut :

  1. Shan (gunung) : quanfa (beladiri), fuzhou (talisman), zhuji[1] (meditasi), shi er (pola makan yang sehat, seperti diet carbohidrat bigu) [2], xuandian (filsafat)
  2. Yi (pengobatan) : tusuk jarum, ramuan, daoyin (senam pernafasan), lingzhi (psikologi)
  3. Xiang (bentuk) : yuzhang (garis tangan), jinmian (raut muka), yangzhai (rumah tinggal), mogu (meraba tulang), muxiang (fengshui, bentuk kuburan), yinxiang (bentuk stempel)
  4. Ming (perjalanan hidup )[3] : bazi, ziweidoushu, xingping huihai.
  5. Bu (divination[4]): Meihua yishu, qimen dunjia.

Ilmu xiang, ming dan bu itu sering dianggap sebagai ilmu ramal. Dalam beberapa hal memang ada benarnya. Tapi perlu dipahami bahwa ilmu ramal itu menggunakan data-data yang diperlukan dan memiliki rumusrumus yang dibangun dengan logika yang terkait dengan kulturnya juga filosofinya. Karena itu dalam semua peradaban dan kebudayaan itu mengenal namanya “meramal” dan membangun “sains”nya sendiri berdasarkan kultur dan filosofinya. Misalnya yoga, astrologi barat, hitungan wuku Jawa dan lain-lain. Ironisnya lima ilmu utama itu sering dicibirkan oleh orang Tionghoa sendiri yang pola pikirnya menggunakan logika barat (logika Aristotelian) atau sains barat. Sains barat yang dipelopori Copernicous, Galileo Galilei, Francis Bacon, Isaac Newton dan lain-lain memandang alam itu bagaikan mekanik atau mesin raksasa, dapat dipahami dengan analitik. Tapi pergerakan arus posmodernisme mengubah pandangan tersebut dan didukung dengan perkembangan quantum. Arus besar dunia sains barat sudah berubah dalam memandang dunia ini sedangkan orang timur masih terkungkung dengan pola pikir arus sains barat yang sudah ditinggalkan. Sains barat sendiri sekarang bisa menerima akupuntur dan banyak tokoh-tokoh barat dipengaruhi pemikiran filosofis timur. Misalnya Heidegger, Nietzsche, Capra, Sagan dan lain-lain. Sains sekarang ini lebih berpikir probilitas daripada kepastian, karena banyaknya variable-variable yang ada. Contoh : warna hijau adalah berdasarkan indera mata manusia, jatuhnya satu benda tidak dapat diukur ketepatannya berapa detik, satu ukuran panjang juga tidak dapat ditemukan ukuran pastinya. Yang bisa adalah satuan ukuran yang bisa diterima tapi tidak pasti dan tepat.

Berbagai faktor yang mendasari ilmu ramal[5] antara lain adalah :

  1. Untuk membangun keteraturan dalam alam (cosmos) maupun dalam hidup. Ilmu pengetahuan juga bertujuan membangun keteraturan alam. Suatu upaya mencari keteraturan alam. Dan tidak dapat dipungkiri banyak ilmu-ilmu pengetahuan sekarang ini lahir dari berbagai disiplin “ilmu” yang dianggap tahayul. Misalnya astronomi lahir dari astrologi, kimia lahir dari alkimia. Bahkan Newton sendiri awalnya berangkat dari alkima, Galileo berangkat dari astrologi.
  2. Sebagai alat pengontrol. Baik atau buruk hasil prediksi atau ramalan itu harus menjadikan manusia atau kelompok masyarakat mawas diri dan memperbaiki keadaannya terus menerus. Yang menjadi masalah adalah kondisi psikologis jika hasil ramalan itu baik atau buruk. Tanpa adanya mawas diri dan sikap memperbaiki diri, semua itu menjadi sia-sia belaka. Dalam bidang ilmu ekonomi misalnya, prediksi atau ramalan ekonomi entah baik atau buruk itu tetap harus disikapi dengan mawas diri dan upaya memperbaiki diri.
  3. Perjalanan hidup manusia selalu tidak memiliki ketidak pastian karena ketidak mampuannya dalam memprediksi apa yang akan terjadi. Karena itu ilmu ramal adalah suatu upaya memberikan kepastian dalam kondisi yang tidak pasti. Sains juga berupaya memberikan kepastian-kepastian dalam hal yang tidak pasti, misalnya ramalan cuaca. Prediksi atau ramalan cuaca itu juga tidak memberikan suatu jawaban yang pasti, tetap ada toleransi untuk ramalan itu.

Menafsir atau meramal itu dikenal dalam semua kebudayaan dan mengandung unsur kebijaksanaan (profetik). Hasil ramalan tidak selalu baik, unsur enak dan tidak enak harus diterima. Dalam budaya Tionghoa itu mengenal banyak metode untuk mengubah atau memiliki cara-cara untuk mengatasi tidak enak itu. Manusia saat menatap masa depan, selalu memiliki kecemasan dan harapan, citra dan idealitas. Begitu pula orang tua yang selalu memiliki kecemasan dan harapan akan masa depan anak itu. Sudah memasuki ranah belief system dari kepercayaan orang Tionghoa. Dan belief system ini berjalan ribuan tahun yang bertujuan menjaga keteraturan atau mencari keteraturan itu sendiri yang merupakan system simbolik. System simbolik adalah mediasi antara tataran abstraksi dan ekspresi dalam hidup, yang memiliki 3 bagian yaitu domain ekspresi, system simbolik dan domain abstraksi (konseptual atau metafisik).

Mereka yang mempelajari Yijing atau kitab perubahan dari sudut filosofis akan menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah perubahan dan perubahan itu memiliki pola yang bisa diprediksi atau diramal dengan toleransi akurasinya itu sendiri. Jadi tidak ada yang bisa memberikan suatu kepastian. Karena itu filsuf Xun Zi mengatakan bahwa “mereka yang menguasai perubahan itu tidak akan memprediksi”. Pernyataan Xun Zi ini bukan berarti ilmu ramal tidak ada atau harus dibuang. Premis tersebut harus dilihat bahwa jika kita menyadari segala sesuatu adalah anicca atau wuchangdan bisa bermain cantik dalam wuchang itu maka kita bisa mengarungi kehidupan dengan indah dan cantik. Masalahnya adalah untuk mencapai pengertian dan pemahaman (atau pencerahan) itu memerlukan jalan yang panjang. Selama perjalanan itu maka adalah hal yang wajar manusia mencoba meraih kepastian dalam ketidak pastian ini.

[1] Pengertian meditasi Taoism agak berbeda dengan meditasi Buddhism, dimana meditasi Taoism terkait dengan qi yang bertujuan menjaga yuanqi (qi asali) atau qi (karakter qi asali dalam Taoism ditulis seperti itu, kadang juga dikaitkan dengan Qi alam semesta yang asali, tidak tercemar) tidak terkuras dengan cepat. Tujuannya adalah kesehatan dan akhirnya adalah pencerahan.

[2] Shi er adalah pola makan yang sehat dengan tujuan menghindari penyakit.

[3] Ming saya artikan adalah perjalanan hidup, tidak diartikan sebagai takdir, karena dalam ilmu ming, yang dihitung adalah keselarasan perjalanan hidup seseorang dari balita hingga akhir hayatnya dengan lima unsur.

[4] Pengertian divination adalah suatu upaya peramalan dengan kekuatan yang supra natural. Untuk hal ini perlu dijelaskan bahwa bu tidak sekedar bermenung mendapatkan ilham tapi menggunakan metode atau cara. Hanya saja dalam kelenteng, metode ciamsie dan pwapee itu dipercaya selain menggunakan metode juga menggunakan kekuatan yang ilahi atau dewata.

[5] Termasuk ramalan cuaca dan berbagai prediksi (ramalan) yang menggunakan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Misalnya ramalan perkembangan ekonomi dan sebagainya.

Sumber : http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/ item/3812-menjelajahi-misteri-ciamsi-danpwa-pwee-bag-1