Kisah Sakyamuni Buddha – Orang Bijak dari Kaum Sakya

Kisah Sakyamuni Buddha
Orang Bijak dari Kaum Sakya

Ayah dari Pangeran Siddharta Gautama adalah Raja Sudhodana Gautama yang memerintah Kerajaan Sakya dengan ibukota kerajaan Kapilavastu. Ibunya adalah Dewi Mahamaya yang berasal dari Kerajaan Koliyas dengan ibukota kerajaan Dewadaha. Dewi Mahamaya meninggal tujuh hari setelah melahirkan Siddharta. Setelah meninggal, Dewi Mahamaya terlahir di alam Tusita (Sorga Luhur). Sejak itu maka yang merawat Siddharta adalah Prajapati Gautami, bibi-Nya, yang juga menjadi istri Raja Sudhodana.

Siddharta lahir pada bulan Wiasak purnama sidhi tahun 623 SM di Taman Lumbini, di bawah pohon Sala. Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kaundinya yang dengan pasti meramalkan bahwa sang pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Raja Sudhodana menjadi cemas, karena apabila Siddharta menjadi Buddha maka tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Raja Sudhodana, para pertapa itu menjelaskan agar Siddharta jangan sampai melihat empat macam peristiwa atau ia akan menjadi Buddha. Empat peristiwa itu adalah orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Siddharta adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan dan dayang-dayang yang masih muda cantik rupawan di istana yang megah dan indah.

Dalam usia 16 tahun, Siddharta menikah dengan Putri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai macam sayembara. Ternyata akhirnya Siddharta melihat empat peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah itu Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini.

Ketika Beliau berusia 29 tahun, putera pertamanya lahir diberi nama Rahula, yang berarti belenggu/ikatan. Setelah itu Siddharta meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari kebenaran sejati yang dapat membebaskan manusia dari derita karena usia tua, sakit dan mati.

Siddharta menjadi pertapa dan berguru kepada Alara Karama dan kemudian kepada Uddaka Ramaputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh apa yang diharapkannya. Kemudian Beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima pertapa di hutan Uruvela. Akhirnya Beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi dengan menjalankan Jalan Tengan di bawah pohon Bodhi (sebelumnya bernama pohon Asetha).

Dalam usia 35 tahun, Siddharta memperoleh Bodhi (penerangan sempurna), menjadi Buddha di bawah pohon Bodhi di hutan Gaya. Untuk pertama kalinya Sang Buddha mengajarkan Dharma yang maha sempurna kepada lima pertapa kawan Beliau dahulu. Peristiwa kotbah pertama ini kemudian dikenal sebagai Kotbah Pemutaran Roda Kebenaran (Dharmacakrapravartana Sutra).

Selanjutnya Sang Buddha Gautama sangat giat mengajarkan Dharma kepada para siswa-Nya sampai Beliau mencapai parinirvana dalam usia 80 tahun di Kusinara/Kusinagara. Jasad-Nya diperabukan dan relik-Nya dibagi menjadi delapan kepada para kepala suku yang hadir saat itu.

Sang Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa dunia ini (masa dunia atau kalpa; 1 kalpa lamanya ± 4.320.000.000 tahun). Buddha-buddha sebelumnya ada 27 dan Buddha yang akan datang adalah Buddha Maitreya.

Menurut Sang Buddha Gautama, ajaran yang Beliau sampaikan akan dapat bertahan ± 5.000 tahun. Setelah itu ajaran Beliau akan diselewengkan sehingga mungkin masih ada yang menggunakan nama agama Buddha tetapi ajarannya akan jauh sekali berbeda dengan ajaran Beliau yang asli. Karena itu akan datang kembali seorang Buddha lain yang akan mengajarkan Dharma yang sama dengan Dharma dari Sang Buddha Gautama, yaitu Buddha Maitreya.

 

Sumber: Buku Kisah Para Suci, Terbitan BAKTI : 2011