Kilas Balik Perjuangan Kwee Tek Hoay

Minggu, 26 Juli 2020
HUT Kwee Tek Hoay ke 134
Lahir : 31 Juli 1886
Wafat : 04 Juli 1952

Pandangan & pemikiran Kwee Tek Hoay :

Sebagai aktivis / umat Tridharma, sudah sepatutnya mengetahui buat pemikiran dan cita-cita Kwee Tek Hoay tentang Tridharma. Dalam karya-karyanya, Kwee Tek Hoay begitu banyak berbicara tentang Tridharma / Sam Kauw. Kwee Tek Hoay adalah sosok besar dalam dunia sastra agama Buddha & organisasi Tridharma di Indonesia. Nama besar nya sempat tenggelam di rezim orde baru, namun belakangan ini semakin banyak orang yang menyadari dan mengangkat nama & jasa besar Kwee Tek Hoay. Kini, ia dikenal sebagai Pelopor Kebangkitan & Pengembang Agama Buddha di Indonesia yang pertama.

Kwee Tek Hoay lahir di Bogor pada tanggal 31 Juli 1886 dan meninggal pada tanggal 4 Juli 1952 dalam usia 66 tahun di Desa Warung Ceuri, Cicurug, Priangan, Jawa Barat. Jenazah-nya diperabukan di Muara Karang Jakarta pada tanggal 6 Juli 1952 bertepatan dengan peringatan Hari Asadha.

Menurut Prof. Dr. Claudine Lombard-Salmon dari Perancis dalam bukunya yang berjudul Literature in Malay by The Chinese of Indonesia, sejak tahun 1902 Kwee Tek Hoay telah menyumbangkan banyak karya tulisnya di banyak surat kabar pada masa itu. Bakatnya di bidang jurnalistik semakin menonjol sekitar masa Perang Dunia I (1914 – 1918), ia sering mengirimkan tulisan-tulisan mengenai perang dunia pertama itu.

Pada tahun 1952, Kwee Tek Hoay menjadi Pimpinan Redaksi Harian Sin Bin di Bandung, ia juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Mingguan Panorama sejak tahun 1926 – 1932 dan juga Majalah Bulanan Moestika Romans pada tahun 1930 – 1932. Pada tahun 1932 – 1934 ia mendirikan Majalah Mingguan Moestika Dharma dan Majalah Bulanan Sam Kauw Gwat Po (1934 – 1947). Majalah Moestika Dharma dan Sam Kauw Gwat Po berisi tentang artikel karya Kwee Tek Hoay dan rekan-rekannya yang kebanyakan bertemakan Buddhisme, Confucianisme dan Taoisme. Namun Kwee Tek Hoay juga sering menulis artikel-artikel tentang ajaran lainnya. Majalah Sam Kauw Gwat Po ini kemudian menjadi sumber dan media komunikasi bagi organisasi Sam Kauw Hwee yang diprakarsai oleh Kwee Tek Hoay pada tahun 1935.

Selama lebih dari 20 tahun, hasil karya sendiri maupun terjemahan / saduran yang dihasilkan mencapai lebih dari 100 judul yang berbeda beda. Mulai dari tema agama Buddhisme, Confucianisme dan Taoisme sampai ke Hinduisme, Brahmaisme, Kristen, Islam dan Theosofie. Kwee Tek Hoay juga ahli menulis berbagai macam filsafat seperti Omar Khayyam, Rabindranath Tagore & Bhagavad Gita. Ada juga karya Kwee Tek Hoay mengenai drama, hikayat kuno (Yunani, India, Cina), ilmu gaib, mistik, puisi, sajak, syair, novel, roman, cerita jenaka, detektif, musik & sosial budaya. Sehingga tak heran apabila Kwee Tek Hoay dijuluki sebagai Pengarang Serba Bisa (All Round Writer)

Artikelnya dalam Moestika Romans diterjemahkan ke dalam baasa Inggris oleh Prof Lea S. Williams, Chairman Dept Of Asian History, Brown University, Rhode Island, yang diterbitkan sebagai buku dengan judul The Origins Of The Modern Chinese Movement In Indonesia oleh Cornell University, South East Asia Program, Modern Indonesia Project Translation Series, Ithaka New York.

Pada tanggal 7 November 2011, sesuai dengan KEPPRES R.I. NO. 115 /TK/TAHUN 2011 Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi tinggi kepada Kwee Tek Hoay dengan memberikan Piagam Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma atau Pahlawan Sastrawan Melayu atas karya-karyanya yang sangat berguna untuk bangsa Indonesia. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden SBY kepada salah satu keturunan Kwee Tek Hoay di Istana Negara dalam rangka menyambut Hari Pahlawan (10 November)
Aktivis Sosial dan Rohaniwan

Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Februari 1939) :
“Itoe Sam Kauw akan mendjadi satoe philosofie agama jang paling lengkep dan memberi faedah besar bagi manoesia,
teroetama bagi orang Tionghoea jang leloehornja soedah kenal itoetiga peladjaran sadari riboen taon laloe”

Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Agustus 1936) :
Apatah betoel Sam Kauw Hwe satoe pakoempoelan “Gado gado”?
“Bahoea sabagian besar dari orang jang masih pegang tetep Agama Tionghoa dalam praktijk ada memelok Sam Kauw, kerna ini Tiga Agama sadari banjak abad yang laloe soedah tergaboeng mendjadi satoe dalembatin dan panghidoepan orang Tionghoa.
Kita sendiri anggep tidak djelek kalo satoe Hoed Kauw Hwe meloeloe perhatiken agama Buddha dan satoe Khong Kauw Hwe tida bitjaraken laen dari agama Khong Tjoe…begitu juga satoe To Kauw Hwe perhatiken agama Too saja….

Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Februari 1939) :
Tapi ia orang tida haroes mentjelah pada Sam Kauw Hwe tjoemah lantaran ini perkoempoelan soedah perhatiken sari dari Tiga Agama jang soedah tergabung dalem batin dan panghidoepan Tionghoa.
Sam Kauw Hwe ada pandang seperti soedara dan ingin bekerdja sama sama dengan sasoeatoe pakoempoelan atawa pergerakan jang perhatikan sadja sotoe satoe dari itu Tiga Agama sendirian.
Djoega kita tidak ingin bermoesoehan pada laen laen agama jang bukan Sam Kauw kaloe di laen fihak tida ada disiarken apa apa jang bersifat menjerang atawa merendahkan pada Khong Kauw, Hoed Kauw dan Too Kauw, Dunia ada tjoekoep lebar aken masing masing agama bekerdja dalem kalangannja sendiri”




Selamat memperingati Hari Tridharma 31 Juli 2020.

Lahir sebagai Tridharma,
Hidup sebagai Tridharma &
Mati sebagai Tridharma

Salam Tridharma

Marga Singgih
Ketua
Perkumpulan Tridharma Nusantara.